Sebuah Ketegasan

Friday, 23-09-2011
21.00 WIB

Ini merupakan suatu ketegasan. Bukan hanya emosi sesaat. Dan kuharap semua yang kuputuskan ini, bisa menjadi pelajaran dan pengalaman di masa mendatang agar aku tidak terantuk dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya atau berkali-kali.

Di episode ini, maaf jika semua kuurai terlalu detail dan cenderung terbuka. Karena aku hanya ingin meluapkan bagaimana isi hatiku yang sebenarnya.

Mungkin semua terjadi terlalu cepat. Dan saat itu aku datang dengan niat sebagai pengobat hatinya setelah hatinya tak lagi terpaut oleh orang lain.
Aku berusaha menjadi yang terbaik. Mencoba mengerti posisinya. Mencoba tidak mengulang kesalahan untuk kedua kallinya. Mencoba belajar mengerti dirinya. Semua kulakukan. Mengalirlah cerita…

Dan sampai suatu saat, aku mendapat kado terindah di ulang tahunku yang ke-20. Bukan sebuah bingkisan, bukan sebuah pernyataan cinta, tapi berita bahwa ada sebuah hubungan yang masih menggantung di sana. Belum sepenuhnya berakhir, begitulah tepatnya.
Kuminta sebuah klarifikasi untuk sebuah penjelasan. Tapi sayang, niatan untuk bertemu saja tidak ada.

Aku mencoba bertahan, dan meneruskan langkah. Tapi hanya menemukan luka dan hubungan yang semakin tabu.
Aku terjebak.
Betapa selama ini aku selalu mengerti, selalu mengalah, selalu bertahan. Tapi sepertinya tak pernah dia indahkan. Tidak menganggap aku sebagai salah seorang yang penting dihatinya.
Tak bisa merasakan seperti apa dimengerti, seperti apa dilindungi, seperti apa disayangi.
Dan akupun tak kuasa menuntut…

Untukmu :
Jangan salahkan aku bila keputusan ini yang ku ambil. Sadarlah, betapa sakit telah disia-siakan oleh orang yang kita sayangi. Bukan balas dendam, tapi agar kau tau bagaimana rasanya.
Aku tidak akan membencimu. Aku akan selalu mengingat namamu sebagai pembelajaran di masa datangku kelak.
Akan kubuktikan, aku akan lebih baik tanpamu di sini. Aku akan lebih kuat setelah apa yang kau lakukan ini. Dan aku akan lebih bahagia dengan bekas lukaku ini.
Dengarlah dan resapi….

Continue "Sebuah Ketegasan"

Berita Nikah

Wednesday, 07-09-2011
LAGI ! BERITA NIKAH !
                Pagi itu pukul 08.00 pagi. Aku rebahan di atas kasurku melepas lelah setelah selesai menyelesaikan tugasku membersihkan rumah. Ditemani lagu Celine Dion ‘A New Day Has Come’, aku menatap langit-langit kamar dan meracau asal menirukan sang penyanyi. Tiba-tiba saja handphoneku berbunyi ‘pip’. Satu SMS dari temanku IKA WAHYU. Aku langsung bangkit dari tidurku melihat balasan SMSnya ‘Iya.. Insya Allah abis Idul Adha aku nikah’. Kaget dan ternganga mendengar berita ini.
Satu persatu teman-temanku meninggalkanku menempuh kehidupan barunya bersama suami mereka. Padahal diusia yang masih 20 tahunan ini, masih terlalu muda bagiku untuk mengarungi behatera rumah tangga yang menurutku, cukup mengerikan.
                Entah doktrin dari mana, aku selalu berasumsi bahwa pernikahan itu adalah suatu momok yang mengerikan. Hidup bersama dengan mertua dan mengahadapi segala masalah yang ada. Aku belum cukup kuat untuk itu. Masih banyak yang belum aku tau tentang hidup bermasyarakat didunia yang serba mengahalalkan segala cara, seperti sekarang ini.
                Bukan tidak mau, tapi hanya belum siap. Aku masih merasa seperti ABG yang baru lulus SMP minggu kemarin. Dan mungkin ada beberapa pengalaman keluarga, teman, dan kerabat yang membuat aku punya asumsi bahwa pernikahan itu suatu yang memberatkan.
                Bagaimana tidak, hampir setiap hari aku mendengar keluhan tentang ini dan itu. Suami pelitlah, suami kasarlah, mertua jahat, mertua matre, dan masih banyak lagi keluhan-keluhan dan curahan hati tentang pernikahan mereka. Dan dari situlah, membentuk pemikiran yang rumit tentang suatu pernikahan dipikiranku.
                Setiap aku bertandang ke pernikahan teman atau kerabat, hanya satu pertanyaan yang terlintas dipikiranku. “Kapan aku siap seperti itu ?”. mencoba menghibur diripun percuma. Yang tergambar dibenakku, hanya masalah dan masalah dalam kehidupan rumah tangga.
                Entahlah. Hanya Tuhan yang berkehendak. Aku hanya bisa berusaha melakukan yang terbaik, agar nantinya aku juga dapat yang terbaik. Jodoh itu ada di tangan Tuhan. Tapi bukan berarti hanya melakukan aktifitas menunggu sang jodoh datang, tetap berusaha dan berdoa agar aku dan dia dipertemukan dalam waktu yang indah :)
                Dan untuk temanku. Selamat mengarungi hidup barumu. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rohmah :)
Continue "Berita Nikah"

From Malang With Sorrow

 
 
Perjalanan dari Malang, membuat tulang punggungku terasa remuk. Setelah dari Malangpun, perjalanan masih berlanjut menuju tempat keluarga kami di Sendang, Tuban. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana bisa perjalanan ini aku tempuh selama 3 hari 2 malam.

                Dalam mobil, aku terdiam menatap kosong pohon-pohon yang bergerak mundur. Berjejer rapi seperti pagar ayu dalam sebuah pernikahan. Jalanan lenggang malam itu. Hanya beberapa mobil yang kadang menyalip mobil kami di tol Surabaya itu. Pikiranku entah bercabang ke dunia mana. Semua emosipun bercampur aduk dan berkecamuk di dada. Aku sendiri bingung mengungkapkannya. Tapi akan kucoba mengurainya.

                Salah satunya, tentang celah dalam keluargaku. Entah kapan celah itu mulai lubang. Tapi kurasa, sekarang celah itu semakin dalam. Dengan berbagai tampilan senyum dan sikap menurut sebagai kamuflase. Perbedaan pemikiran dan keegoan yang membuat semuanya tak berjalan dalam satu jalan. Tak banyak yang bisa kuperbuat. Sekedar tau saja bagaimana suatu keharmonisan itu sangat penting dalam hal hubungan apapun.

            Selama ini kukira aku sudah dalam sebuah lingkaran yang utuh tanpa suatu celah apapun. Tapi semakin aku dewasa dan mulai bisa menilai suatu hal dari sisi yang berbeda, akupun sadar, aku terjebak dalam lingkaran yang tak berbentuk. Dan lagi-lagi semua karena keegoisan yang tinggi. Berusaha mengerti dan mengalahpun, aku tak sanggup bila harus melakukan kedua hal itu sepanjang hidupku. Karena pada dasarnya merekalah yang harus bisa mengalah dan mengerti keadaan kami sebagai anak-anaknya yang ingin menempuh jalan kami.

                Dalam hatipun aku hanya bisa berkata “semoga Allah memudahkan jalanku dan menguatkan aku untuk meraih ridhoNya”. Aku bertahan karena kakak perempuanku dan juga Bapak. Semoga semua akan indah pada waktunya.

               

Masih di tol Surabaya. Kulirik handphoneku, tak ada balasan SMS satupun darinya. Padahal, aku sangat membutuhkan teman berbagi saat ini. Aku ingin dia menghiburku. Memberiku ketenangan di posisiku yang menyuntukkan ini.

                Hal yang kedua itu adalah, tentangnya. Rumit. Itu kata yang pas untuk menggambarkan kepribadiannya. Semakin kesini, hubunganku dengannya semakin tidak jelas. Menuntut aku untuk terus mengerti dan mengerti keadaannya.

                Perumpamaannya begini, seorang anak kecil sudah seharusnya dilindungi dan mencoba mengerti apa yang dia mau. Tapi ini justru kebalikannya. Justru  anak kecil ini melindungi orang yang harus melindunginya. Aneh kan ? Akupun tak habis pikir. Bagaimana bisa tangan kecil anak itu menahan pegangan sebuah tangan yang seharusnya menariknya dari lubang di tengan jalan.

Berulang kali, bahkan setiap kali. Terus dan terus. Selalu mendahulukan egonya. Ketika aku bercerita tentang keadaanku, bukan menjadi pendengar setia, tapi justru “aku juga begini dan begitu”. Lelah ! terlalu banyak alasan. Bukan menuntut untuk dia seperti ini dan itu. Aku hanya ingin merasakan selayaknya kodrat perempuan kebanyakan. Dimengerti, disayangi, dlindungi, dan diperhatikan. Dan bila harus mengalah terus pada keegoannya, bukan aku orangnya. Karena aku tak sanggup.

Dan sekarang, aku tak ingin apa-apa. Hanya ingin mengistirahatkan hatiku dan menambah kekuatan positif untuk membangun pribadi yang kuat.

               
Continue "From Malang With Sorrow"

Saat Terjebak Oleh Ketidakpastian

20-08-2011

Pernah merasa terjebak oleh perasaan sendiri. Perasaan bersalah yang kubuat sendiri. Terasa tak bisa melangkahkan kaki kemanapun. Dan dihadapkan oleh dua pilihan yang sangat sulit.

Melangkah maju, terhampar daratan duri yang sangat luas.

Melangkah mundur, akan terhempas ke dalam jurang yang sangat dalam.

Yang kulakukan hanyalah diam. Menangis. Menunggu keajaiban ada seorang peri yang bisa membawaku terbang. Tapi percuma. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Untuk berangan pun sangat sulit terasa.

Lama ku tertahan di posisiku. Tak mendapatkan jalan keluar. Ada resiko besar di setiap masing-masing keputusan yang kuambil. Sanggupkah aku ?? Hanya itu pertanyaannya.

Dan saat itulah aku baru sadar. Aku telah dikecewakan oleh sebuah ketidakpastian. Harapan yang tinggipun langsung tumbang oleh ketidakpastian itu.

Tidak berani menyalahkan siapapun. Aku hanya bisa mengutuki diriku sendiri.

Ingin sekali memutar waktu kembali. Dan lagi ! Aku tak bisa berbuat apa-apa.

Dalam diampun ku berdoa. Semoga Tuhan menguatkanku bila memang aku harus memilih satu diantara dua pilihan itu. Meminta bimbinganNya agar ku tak lagi terjebak.

Dan sekarang, semua harus kulalui dengan senyum. Apapun itu. Sesakit apapun itu. Karena aku harus bertanggung jawab dengan keputusan yang telah aku buat sendiri. Mencoba untuk mensyukuri semua hal yang aku punya sekarang.

Karena itulah aku di sini. Mencoba berdiri tegak dengan segala kekuatan yang kupunya.


Continue "Saat Terjebak Oleh Ketidakpastian"