Diam-Diam Perhatian Dalam Diam

Masih inget prolog di film Thailand “A Little Thing Called Love” ?
“Setiap kita, mempunyai seseorang yang tersembunyi di dasar hati. Ketika kita berfikir tentangnya, kita akan merasa, ummmm… Selalu merasa sakit di dalam. Tapi kita masih ingin mempertahankan dia. Meskipun aku tidak tahu dimana dia sekarang, apa yang dia lakukan, tapi dia adalah orang yang membuat aku mengetahui tentang hal ini: sebuah hal kecil yang disebut CINTA”.

Tidak bisa dipungkiri, setiap kita pernah punya seseorang yang mungkin sampai saat ini masih menyita sedikit perhatian kita. Menempatkannya di salah satu ruangan hati yang orang lain tak bisa menjamahnya. Itu manusiawi dan masuk akal.

Entah mulai kapan, dia mencuri perhatianku. Aku baru sadar setelah kita menjadi teman akrab. Awalnya, aku denied semua hal tentang dia yang memasuki pikiranku. “It was just your stupid imagination, Wil” kataku berkali-kali pada diriku sendiri.
Saking akrabnya, obrolan kita kadang tanpa batas. Sharing masalah pribadi dan sering bercanda dengan kata-kata yang mungkin orang menyebutnya ‘gombal’. Dari situlah, aku menarik kesimpulan, “kita teman”. Dan terlontar: “I never take it seriously every words you said” dari mulutku.

Pada kenyataannya, aku kemakan omongan sendiri.

Satu bulan, dua bulan, dan entah sampai beberapa bulan, aku mampu menyangkal hal-hal yang aku rasa hanyalah khayalanku sementara . Sampai, aku tersadar ada seseorang yang memenuhi pikiranku.
Awalnya ragu, diakah ?

Pernah suatu maghrib. Di musholla kecil gedung Pusat Studi kampusku. Aku menyelesaikan rakaat terakhirku. Setelah salam yang kedua dan aku baru sadar ada seseorang beberapa meter di samping kananku. Duduk, dengan sedikit menggerakkan jari-jarinya. Perhatianku tersita, ternyata kita hanya berdua di musholla itu. Itulah, saat-saat yang belum bisa aku lupakan. Terduduk bersama beberapa menit dalam suatu munajat doa yang hanya kita masing-masing yang tahu.
Andai dia tahu, doa apa yang aku panjatkan saat itu.

Kalau boleh jujur, aku belum pernah mempunyai suatu kisah yang menyenangkan dalam hal percintaan. Begitu pula yang ini.
Ketika kita sudah berani menaruh hati setelah sekian lama menutup rapat pintu hati itu, tidak semua tempat menerima dengan tangan terbuka sebuah hati yang kita taruh. Tapi, itulah resikonya. We dare to love, we dare to be hurted. Dan seberapa besar usaha kita, belum tentu bisa diterima dengan senyuman atau jawaban ‘Ya’.
Mencintai diam-diam bukanlah hal yang sulit. Yang sulit hanyalah menanggung sakitnya sendirian, menunggu dalam diam dan tak bisa menuntut apapun. Seberapa banyak kode yang kita tujukan untuk dia, belom tentu dianggap serius, kalau memang hatinya bukan tertuju pada kita.
Capek ? Pasti.

Tapi percaya aja, Tuhan lebih tahu siapa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Kalaupun usaha kita untuk mencintai diam-diam itu percuma, paling tidak, kita pernah belajar bagaimana menyabarkan hati di antara emosi-emosi pikiran yang selalu tak menentu. Menyabarkan hati saat rindu-rindu itu tak tersampaikan.
Continue "Diam-Diam Perhatian Dalam Diam"

Karena Aku Takut



Malam ini, kutengadahkan kepala ke langit-langit atap. Memikirkan hal-hal yang sebenarnya tak penting untuk kupikirkan. Dan tiba-tiba sebuah pertanyaan melintas di pikiranku. 


Mungkinkah aku akan jatuh cinta untuk ketiga kalinya ?

Ya, aku takut. Bahkan untuk membayangkannya saja terlalu mustahil. Aku sadar, betapa aku terlalu menutup hati selama ini. Mengamankan hati untuk tidak membuka luka lama. Mengunci pintu hati untuk tidak dimasuki oleh luka.
Ya, itu yang selama ini kulakukan.

Banyak jabat tangan dari sosok-sosok yang baru kukenal. Banyak obrolan-obrolan yang bisa kuperbincangkan dengan mereka. Dan, lagi-lagi aku menjaga jarak. Sangat jauh. Betapa hati-hatinya aku ketika hanya menjawab sebuah sapaan “Hai”.
Kehatia-hatian ini karena betapa aku dikecewakan untuk kedua kalinya. Seakan jengah dengan luka, aku menutup hati. Membiarkannya terkunci entah sampai kapan. Tidak mengindahkan semua yang datang. Jahat ? Ya, mungkin. Tapi lagi-lagi, karena sesungguhnya aku terlalu takut.
Takut bagaimana luka seperti apa lagi yang akan ditorehkan ? Bagaimana kalo aku menangis di depan keluargaku untuk kesekian kalinya ? Bentuk survive macam apa lagi yang harus kujalani ? Sakit macam apa lagi yang harus kurasakan ? Bentuk semangat dari teman-teman apa lagi yang kubutuhkan ?
Akupun memilih diam. Berdiri di tempatku sekian lama. Menolak uluran tangan yang mengajak keluar dari lingkaran tempatku berdiri. Aku belum siap. Belum siap bila menjadi sosok yang kuat dengan luka. Belum siap menahan airmata untuk tidak menetes nantinya. Walaupun itu bukan hal-hal yang aku harapkan.

Sampailah aku ke titik dimana aku berusaha keras menjadi pribadi yang layak. Berusaha menjadi seseorang yang layak dicintai oleh pribadi yang hebat. Tapi ini baru langkah awal. Langkah dimana aku mengumpulkan sisa-sisa kekuatanku dari masa lalu untuk menjadikannya tameng. Berusaha menjadikannya pesona bagi pribadi-pribadi yang hebat. Menjadikannya kekaguman keluarga dan teman-teman terdekat. 

Ya, aku ingin jatuh cinta lagi… tapi nanti. Saat Tuhan telah melayakkanku untuk berdiri sendiri dengan semua kekuatan yang kukumpulkan untuk melawan ketakutanku selama ini.


Kuatkan aku Tuhan
umatMu, Wilda Nee
Continue "Karena Aku Takut"

Panggil Dia Erik


Namanya Erik, Thoriq Izzuddin Al-Fath. Anugrah pertama di keluarga kami. Anak pertama dari mbak dan mas iparku. Cucu pertama dari keluargaku dan keluarga mas iparku. Dan keponakan pertamakuuuuu.


Erik lagi mantengin Shaun The Sheep
Erik lagi ngambek ke mamahnya minta susu


Erik lagi belajar sepeda roda dua bersama omnya
Sekarang Erik menginjak 4 tahun. 26 Maret lalu ulang tahun dirayain di rumah mbakku di Ponorogo. Syukuran kecil-kecilan. Tapi sayang, aku gak nyimpen fotonya.

Setiap pulang ke rumah kami, Bojonegoro. Erik seperti penghibur di keluarga kami. Ocehannya yang gak berhenti-henti menciptakan gelak tawa di keluarga kami. Lucu :)

Setiap Erik nangis, mbah kung, mbah uti, tantenya langsung merentangan tangan mencoba menghibur. Ini saat-saat keluarga kami gak bisa bilang 'gak' ke Erik kecuali mamahnya.




Erik lagi sholat maghrib
Sekecil ini Erik tetep gak pernah lepas dari bimbingan sholat mamahnya. Setiap adzan magrib, keluarga kami memang selalu jama'ah di musholla atau masjid. Dan setiap Erik liat mbah kung dan mbah utinya pergi sholat, Erik langsung buru-buru minta makein sarung. Berhubung gak sarung kecil, sarung omnya, om Ibe, pun dipake. Walaupun kedodoran, itu yang buat Erik gemesin :)










Pose Erik paling seksi ya pas tidur
Erik with Tante dan mamah

Continue "Panggil Dia Erik"

Kamu, ya Kamu


Kamu, ya kamu.

Tak terasa sudah hampir 3 tahun. Entah, tiba-tiba malam ini terlintas dipikiran tentangmu. Memejamkan matapun terasa sulit.
Ya, aku rindu.

Masih ingat, pertama kita kenal ? Hanya via chat FB dan kita sudah saling bertukar canda. Membicarakan hal-hal yang bukan topik dua insan yang baru kenal, tapi mengobrol layaknya teman lama yang sekian lama tak jumpa.
Aku bahkan ingat, waktu itu jam 10 pagi menuju siang. Di warnet yang jauh dari nyaman, kamupun menyamankanku dengan candamu. Aku tertawa kecil. Tersembunyi.
Bukan aku yang sembarang memberikan nomor handphone pada orang yang baru kenal. Tapi entah, hati ini yakin untuk menekan tombol reply dengan nomor handphone didalamnya. Hatiku benar.
Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Kamu selalu hadir di setiap waktu lewat sms lucumu. Selalu berhasil menggelakkan tawa kecil setiap kubuka layar handphoneku. Selalu menyemangatiku dengan suara lucumu. Mengejekku, menggangguku, menertawaiku. Aku suka caramu.
Kamu hadir merubahku. Mengantarku kepada yang bernama kebaikan. Kamu menyadarkanku, apa itu hidup. Kamu menyadarkanku dengan kata-kata sarkatismu yang terdengar manis. Kamu membuatku dekat dengan  Tuhan. Kamu mampu merubah malasku.
Dan setiap airmataku menetes, selalu nomormu yang pertama kuhubungi. Dan lagi, kamu selalu ada. Sesibuk apapun. Tetap setia menungguku, ketika yang bersuara hanya isak tangisku. Mendengarkanku. Selalu berkata “Abis ini langsung wudhu, sholat dua raka’at. Biar kamu tidurnya tenang” sebelum kumenutup telpon.

Kamu, ya kamu.

Kamu tau, betapa aku menyukai caramu menasehati. Caramu bercanda. Caramu mengingatkanku untuk tetap dekat dengan-Nya. Aku suka semua.
Dan kamu tau ? Sampai saat inipun, rasa simpatiku padamu masih tertinggal di sini. Di hati.

Kamu, ya kamu.
Continue "Kamu, ya Kamu"

Andrew Garfield, Pangeran Dalam mimpi


Kayaknya sebelum nulis postingan ini, aku mesti bertasbih dulu, sujud mohon ketenangan ke Maha Penenang. Malem ini, emosiku diubek-ubek.

Tau kan Andrew Garfield ? Itu lho pemeran Peter Parker di The Amazing Spiderman. Film baru, yang baru release bulan ini. Dan pertama release, aku udah exciting banget buat nonton. You know, cewek jomblo kayak aku mana sih yang gak nafsu buat pergi nonton cowok seimut Andrew Garfield?
Ada ?
Pasti kamu punya masalah.
Dan my bad luck, pas film itu release di bioskop, si dompet lagi gak bersahabat banget alias kering kerontang. Cuma ada selembar lima ribu, 2 lembar dua ribuan, dan 4 lembar seribuan. Buat makan sate ayam favorit deket kos aja, mepet-mepet. Dan Andrew Garfield sukses mampir ke mimpiku tiap malem. Mending mampir cium, mungkin aku masih berasa bahagia waktu bangun pagi. Tapi ini Andrew cuma mampir bikin sarang laba-laba depan pintu kos. Ketika paginya aku tengok pintu depan kosku, cuma ada tempat sampah yang udah berantakana bekas diacak-acak tikus semalem. Kurang ngenes apa lagi cobak hidupku ?
Tapi Minggu sore kemarin, serasa itu sore terindah. Ketika salah satu temen cowokku SMS, “Wilda, nonton The Amazing Spiderman yuk”. Alamak, bahagianya minta ampun. Bukan, bukan karena siapa yang ngajak, tapi diajak kemana. Seolah-olah kebahagiaan untuk ketemu Andrew Garfield udah di depan mata. dan udah tau kan jawabannya  ? Big YES.
Hari H. Sampai jam 5 sore tadi, gak ada kabar dari dia. Aku SMS, memastikan. Ya iyalah, setelah berhari-hari Cuma mimpi Andrew, aku gak boleh kehilangan kesempatan ini. Tapi jam setengah 6, dia baru touchdown kosku. Dalam hati, aku punya feeling yang sedikit gak mengenakkan.
Tau kan, 21 Ambarukmo jam setengah 6 sore udah ada mulai film jam segitu. Apalagi film ini baru di bioskop, pasti yang memburu tiketnya bejibun. Dan well, sampe TKP studio 1, The Amazing Spiderman, udah dibuka. Ketika liat sisa seat-nya, cuma kosong sebaris di bangku paling depan. Kalian juga pasti mikir-mikir kan ? Mata minus segede aku, berat buat nonton bioskop di bangku barisan paling depan. Pusing.
Sisa jadwal tinggal jam 19.45 di studio 1 dan jam 20.00 di studio 3. Berhubung aku ditraktir, aku milih manut. Biarkan dia yang ngasih opsi. Dan dari sinilah, aku baru tau aslinya. Gak perlu dijelasin juga kan ? Andai besok aku gak pulang kampung, aku jabanin nonton jam 8 malem itu. Tapi dipaksa seperti apapun, I said NO. Aku saranin ke XXI, berharap our best luck. Dan ternyata, belom sempet parkirpun, pemandangan antri pembelian tiket udah sepet mata.

Aku lemes. Hopeless se hopeless-nya.

Aku replay ke beberapa jam yang lalu. Andai dia cepet kasih kabar waktu SMS, andai dia dateng setengah jam. Andai dia punya plan B. Andai, andai, andai…. Semua gak bakal kayak gini.
Setelah sholat maghrib, berharap dia dapet pencerahan. At least, pengganti kekecewaan kami yang batal nonton. Ternyata jauh dari ekspektasi:
“Mau kemana nih ?”
Aku senyum. Karena aku tau, aku dari awal dia cuma janji traktir nonton, dan aku gak berharap lebih. Dan gak punya hak juga buat ngajak dia kesana kesini.
“Masa pulang ? Dipending dulu aja sih kamu mudiknya. Kita nonton yang jam 8. Nanti minta mbak kosmu bukain pintu kalo kos udah tutup ”. Ujar dia lagi.
WHAT ?!
Tau kan jawaban apa yang cocok buat cowok-cowok kayak gitu.
“Oh ya. Kita pulang aja. Aku juga mau packing”
Flat. Itu jawabanku.
Seandainya keadaan perut lagi gak laper, aku mungkin gak sesensitif itu. Taulah, kondisi laper itu berpotensi meningkatkan emosi seseorang 10 kali lipat. Ditambah lagi, kata-kata yang gak ngenakin dari dia.
Finally, touchdown kos aku acak-acak kamar nyari cemilan pengganjal perut. Dan beryukur Teteh sebelah kamar ngajakin makan. Kasian Teteh, jadi pendengar setiaku yang suaranya kayak petir waktu emosi sedang meninggi gitu.

Dear Andrew Garfield, apa kita ditakdirkan hanya bertemu dalam mimpi ?
Continue "Andrew Garfield, Pangeran Dalam mimpi"

'Kamu Udah Move On ?'


Kamu udah move on ?


Wait! Ini pertanyaan yang banyak diajuin sama temen-temenku. Entahlah, mereka care, worry, atau apa, aku gak tau kenapa selalu pertanyaan itu yang mereka lontarkan setiap ketemu aku. Ah.
Dan sekarang aku balik nanya, apa sih deskripsi ‘move on’ itu ? Anyone ?

Yeah, mungkin kalian punya deskripsi arti ‘move on’ masing-masing. Tapi, hey! ‘Move on’ itu relative. Kalo kamu ngartiin ‘move on’ itu dengan udah ngelupain mantan kamu, dan bisa cinta sama cowok lain dalam hitungan minggu. Well, ada yang salah sama hubunganmu sebelumnya.
Aku heran. Temen-temen bilang aku belom move on cuma gara-gara aku keliatan galau setiap ngetweet. Sering dibilang aku belom move on gara-gara sering ngetweet ngomongin mantan. Sesempitkah itu dunia kalo mereka ngartiin tweet-tweet aku sebagai tweet ‘belom move on’?! Oh, God.
Kamu pernah gak cinta sama seseorang sampai gak mikir dirimu sendiri ? Melakukan apa yang kamu gak suka buat dia ? Mengutamakan dia daripada kamu sendiri ? Itu salah. Dan aku pernah ngalaminnya. Tapi, di sisi lain kamu pasti pernah mencintai dengan tulus, menerima segala kekurangannya, belajar mengontrol egomu sendiri, belajar mengerti dan memahami. Dan sampai saat sebuah perpisahan yang menyakitkan datang, kamu gak bisa apa-apa selain sedikit demi sedikit melepaskan diri.
Sakit ? Iya, pasti. Dan bohong kalo kamu cuma butuh beberapa hari untuk jadi seperti dirimu semula. Setelah pengorbanan apa yang kamu lakuin, dan hal-hal lain yang baru pertama kalinya kamu lakuin bersama dia, bullshit kalo kamu baik-baik aja. Right ?
Nah, saat itulah kamu perlu move on. Survive buat diri kamu sendiri. Berdiri di atas kakimu sendiri. Membiasakan semuanya sendiri setelah sekian lama kamu terbiasa dengan kebersamaan. Dan itulah saat-saat paling menyakitkan di dunia. I know. Bukan dengan membiarkan cinta lain masuk (padahal kamu belom siap) untuk membantumu melupakan semuanya. Mungkin membantu, tapi itu gak berlangsung lama. Dan gak adil buat dia yang berusaha memberi seluruh perhatiannya untukmu. Sedangkan kamu sibuk membandingkan dia dengan mantanmu.
Karena move on bukan hal bisa atau tidak memeberikan cintamu ke hati yang baru, Tapi, bisa tersenyum ketika melihat masa lalumu. Karena move on bukan hal melupakan semuanya apa yang kamu lalui, tapi bijak mengambil hikmah dari apa yang pernah membuatmu terluka.
Dan saat itulah, hatimu siap menerima cinta yang baru dengan pola pikirmu yang baru. Mungkin saat itulah bukan pertanyaan “Kamu udah move on ?” lagi yang kamu terima, tapi pertanyaan “Kamu udah nemuin cinta yang baru ?”

Continue "'Kamu Udah Move On ?'"

July (again)


Godammit!
It’s been long time no see, huh ? (dadah-dadah bak Kate Winslet). Almost 5 months, dan bulan-bulan yang menyibukkan. Sibuk lahir dan sibuk bathin. O yeah!
By the way, 1 July kemarin is my birthday. So, happy birthday! Semoga harapan-harapanku, harapan kedua orang tuaku, harapan teman-temanku, harapan penggemarku (dikeplak pake bantal), semua diamini dan dikabulkan oleh Sang Maha Penentu. Amen.
You know, hampir 5 bulan ini aku sudah banyak mengarungi dan melintasi… entahlah, kejadian-kejadian yang cukup menguras emosi jiwa dan raga. Tsailaaaaah! Dari kejadian yang menyenangkan sampai kejadian yang bikin tekanan darah naik, mungkin sampai titik puncak tertinggi. I don’t know. Tapi bersyukur, sampai saat ini Tuhan masih memberiku kewarasan diatas rata-rata setelah kejadian apa yang kualami (bersimpuh di pintu masjid). Dan ajaibnya, aku sadar siapa namaku, nama orang tuaku, dan juga masih sadar dimana alamatku.
Well, itu agaknya sedikit berlebihan untuk disebut efek dari semua kejadian yang… padahal masih bisa dianggap kejadian wajar seorang manusia. LOL.
Mungkin, ada baiknya kalo aku klasifikasikan kejadian-kejadian selama hampir 5 bulan ini menurut bulan., kategori tingkat kejadian, atau kategori tingkat emosi ? Whatever. Aku penentunya. Coz I’m the owner of the blog :)

Continue "July (again)"

Jawaban Perasaan Yang Ambigu


Yang namanya ngomongin masalah hati dan perasaan itu emang gak ada habisnya ya. Kayak makan batu satu baskom banyaknya ( kalo itu absurd namanya) . Eh, tapi bener juga sih. Pasti kamu pernah ngerasain kan dimana kamu bingung sama perasaan kamu sendiri ? Atau bahkan kamu sadar, kalo memang yang kamu rasain itu mustahil. Ya sama kayak makan batu satu baskom. Emang absurd, tapi kenyataannya kamu bisa makan batu itu bagaimanapun caranya.

Oke, skip tentang makan batu. Ini bukan pertunjukkan Limbad lho. Kembali ke topik ‘perasaan’ dan ‘hati’. Semua orang pasti punya definisi untuk perasaan mereka masing-masing, karena mereka sendiri yang merasakan apa yang mereka rasakan. Tapi banyak juga dimana kamu sendiri gak bisa mendeskripsikan apa isi hati dan bagaimana perasaanmu melalui kata-kata. Jangankan kata-kata, isyaratpun gak bisa buat mendeskripsikan bagaimana perasaan yang kamu rasain saat itu.
Bingung ? Sama aku juga bingung.
Sebenernya kamu tau apa yang ada dalam hati kamu dan bagaimana perasaanmu. Tapi kadang ada hal-hal tertentu yang membuat kamu ragu dengan perasaan kamu sendiri. Entah itu keraguan yang disebabkan dari luar atau keraguan yang disebabkan dari dalam hati kamu sendiri. Kamu mencoba untuk mencari tau untuk meyakinkan hatimu sendiri, tapi pada kenyataannya semua makin random. Kamu semakin merasa jauh dari yang namanya sebuah ‘jawaban’.
Pasti kamu berpikir, kenapa semua ini terjadi ? Padahal dari awal kamu sendiri udah berhati-hati dalam semua tindakan. Berhati-hati untuk tidak terlalu jauh memberi dan diberi. Tapi pada kenyataannya, sudut pandang orang satu dengan yang lainya berbeda. Kamu merasa sudah membatasi diri untuk gak melebihi batas friend zone. Berlaku selayaknya kamu dan mereka selalu pada lingkaran friend zone. Tapi apa mau dikata kalo mereka punya sudut pandang yang berbeda-beda tentang tindakan dan perlakuan kamu. Dan saat itulah kamu seperti dihukum atas kesalahan yang sebenarnya bukan salahmu.
Well, kalo keadaannya aja udah kayak gini, pasti kamu sendiri semakin absurd untuk mengatakan siapa yang sebenernya jadi orang special di hati kamu ? Karena nggak menutup kemungkinan juga mereka juga membatasi diri untuk tetap berada dalam satu lingkaran friend zone denganmu. Dimana kamu merasakan perlakuan mereka padamu yang ‘sedikit berbeda’. Dan tanpa sadar kamu udah menaruh harapan yang gak tau sebanyak apa pada salah satu di antara mereka.
Semua kejadian ini membuat kamu serba salah. Gak tau tindakan apa yang seharusnya kamu ambil untuk selanjutnya. Karena takut. Takut mereka salah paham dan sakit, juga takut hati kamu sendiri yang sakit. Dan kembali, kamu cuma bisa nyalahin diri sendiri. Atau mungkin lebih tepatnya menganggap kamulah yang salah. Tapi mungkin itu tindakan paling bijaksana buat kamu, daripada harus menyalahkan mereka.
Dan walaupun kamu belom bisa mendeskripsikan apa yang kamu rasakan dalam hatimu, tapi kamu mesti yakin, Tuhan gak bakal ngebiarin kamu berada dalam keambiguan. Karena semua pasti bakal ada ‘jawaban’nya. Entah itu besok, lusa, atau bahkan tahun depan. Mungkin ini salah satu cara Tuhan membuatmu agar bisa berpikir lebih dewasa dan realistis.

Continue "Jawaban Perasaan Yang Ambigu"

Saat Hati Telah Menemukan Tempatnya

Malam minggu !
Udah tau kan agenda-ku tiap malem minggu ? Okeh, cuma bisa mantengin notebook sambil ngetwit gak jelas. PUAS LOE ?!

Tapi tenang aja, aku lagi gak mau gegalauan di postingan ini. Ada cerita yang sedikit menarik hari ini ( itu sih menurutku, terserah kalian bilang apa ).

Begini ceritanya. JENG... JENG... JEEENGGGG !!!!

Dia temen kelasku, sebut saja namanya Wan ! Okey, lanjut aja. Dia temen kelasku yang paling unyu unyu diantara cowok unyu lain di kelas ( padahal sumpah ! kelasku gak ada yang unyu ). Dia cowok paling care di kelas. Karena menurutku, standarisasi care anak kampusku, cuma sebatas say 'hello' sama orang yang mereka kenal. Ini gak tau karena memang mereka yang triple careless atau mereka yang jual mahal, pokoknya menurutku standard care mereka bener-bener menyedihkan.

Irwan gak pernah gengsi buat deket sama temen cewek lain, open mind, ringan tangan, dan point pentingnya : bisa di ajak ngegosip sama si biang BIGOS *nunjuk diri sendiri*. Dan gak jarang, bahkan selalu dia yang jadi 'korban'-ku setiap edisi gosipku beredar. Kasiaaaan...

Beberapa minggu yang lalu, ada sesuatu yang ganjal di mataku ( belek kaleeeee ganjel ). Dia deket sama cewek, sebut aja Kin. Kin anaknya cantik, tajir, kalem dan juga enak diajak ngobrol. Setiap ketemu Wan, selalu ada Kin. Dan setiap ada Kin, selalu ada Wan. Jadi, itu bukan salahku kalo tiba-tiba ada question mark : 
"Kalian ada apa sih ? Kok kayaknya deket banget"
Kin membela diri kalo mereka gak ada apa-apa, pure TEMEN. Okey, aku percaya. Karena aku tahu, Wan bukan type cowok Kin, jauh bahkan.

Beberapa hari berlalu, pernyataan mereka bahwa mereka cuma TEMEN rada ambigu di mataku. Karena faktanya, aku ngelihat mereka semakin deket, bahkan MESRA ! Mesra sodara-sodaraaaaaaaaaa...
Lagi-lagi aku nodong Kin dengan pertanyaan yang sama, dan jawaban Kin juga masih sama. Dan aku bilang ke Kin :
"Gak mungkin kalo gak ada apa-apa, kalian sedeket itu, dan dia mau bantu kamu ini itu"

Ada cerita yang minus. Selama deket itu, Wan gak cuma selalu bareng sama Kin, tapi juga sering bantu Kin dalam segala hal. Aku ulangi SEGALA HAL ! Dan gak satu dua kali ada yang ngasih tau kalo Wan sering maen ke kos-nya Kin <-- emang bener-bener paparazzi kampus sejati.

Kin jawab : "Gak ada apa-apaa sumpah !"
Aku : "Tapi kayaknya Wan suka sama kamu, buktinya dia mau bantu ini itu dan tatapan matanya itu lhoooo, aduhay banget ! Bedalah kalo cuma disebutt temen"
Kin : "Ya itu terserah dia. Yang penting aku nganggep dia cuam temen. Gak mungkin juga dong aku jadian sama dia. Dan kamu juga pasti tau alesannya"

Okey, gak ada pertanyaan lagi tentang itu ( kayaknya ni anak ngerecokin banget, pengen tau aja ). 
Dan sore tadi jadi jawaban semuanya. Wan ke kosku nganterin KTM. Gak tau KTM apa ? Kartu Tanda Mahasiswa !
Kita sempet ngobrol tentang ini itu, selayaknya temen. Dan gak tau aku ngasih pancing apa, Wan bilang kalo emang selama ini dia ada feel sama Kin. Oh My God ! Aku kaget sampe mulutku nganga dimasukin lalet. Yiaaaaaaks ! Apa ini ??!!
Jadi bener prediksiku selama ini. Ternyata perlakuan Wan ke Kin itu ada makna tersendiri <-- naluri seorang paparazzi emang selalu tepat. Dan aku gak bisa ngomong apa, karena aku tahu Kin bakal punya jawaban yang kontradiktif sama perasaan Wan.

Dari situ aku tau, ternyata perasaan gak bisa bilang 'gak' kalo sudah menentukan dimana hatinya akan ditempatkan. Walaupun sejuta perbedaan yang bisa dilihat dengan kasat mata sekalipun, hati gak bakal bohong tentang tempat pilihannya :)

Continue "Saat Hati Telah Menemukan Tempatnya"

THE ADVENTURE OF TOM SAWYER

PLOT SUMMARY

Tom Sawyer lives with his Aunt Polly and his half-brother, Sid. After playing hooky from school on Friday and dirtying his clothes in a fight, Tom is made to whitewash the fence as punishment on Saturday. At first, Tom is disappointed by having to forfeit his day off.
Tom falls in love with Becky Thatcher, a new girl in town, and persuades her to get "engaged" by kissing him. Becky kisses Tom, but their romance collapses when she learns that Tom has been "engaged" previously — with a girl named Amy Lawrence.
Tom accompanies Huckleberry Finn, the son of the town drunk, to the graveyard at night to try out a "cure" for warts with a dead cat.  At the graveyard, they witness the murder of young Dr. Robinson by Injun Joe. Scared, Tom and Huck run away and swear not to tell anyone what they have seen. Injun Joe accuses his friend Muff Porter as the murderer.
Tom, Huck, and Tom's friend Joe Harper run away to an island to become pirates. Tom is struck by the idea of appearing at his funeral and surprising everyone. He persuades Joe and Huck to do the same.
Back in school, Tom gets himself back in Becky's favor after he nobly accepts the blame for a book that she has ripped. Tom takes Becky’s punishment, and Tom become a noble one in her eyes.
Muff Potter's trial begins, and Tom, overcome by guilt, testifies against Injun Joe. Tom become the witness of that night event. He telss everyone that  Injun Joe has killed Dr. Robinson.
Tom and Huck go hunting for buried treasure in a haunted house. After venturing upstairs they hear a noise below. They see Injun Joe enter the house disguised as a deaf and mute Spaniard. . He and his friend plan to bury some stolen treasure of their own. But he cancel burries the box of the gold because they see Tom and Huck’s tool.
Tom and Becky get lost in the cave, and their absence is not discovered until the following morning. The men of the town begin to search for them, but nt found. Tom and Becky run out of food and candles and begin to weaken. The horror of the situation increases when Tom, looking for a way out of the cave, happens upon Injun Joe, who is using the cave to hid. Tom almost giving up, so he finds a way out. The town celebrates, and Becky's father, Judge Thatcher, locks up the cave. Injun Joe, trapped inside, starves to death.
A week later, Tom takes Huck to the cave and they find the box of gold, the proceeds of which are invested for them. The Widow Douglas adopts Huck. Tom promises him that if he returns to the widow, he can join Tom's robber band. Reluctantly, Huck agrees.
Continue "THE ADVENTURE OF TOM SAWYER"

THE COUNT OF MONTE CRISTO - Alexander Dumas


PLOT SUMMARY
In 1815 the ship called Pharaon return to Marseilles, French, with a young man Edmond dantes as the captain. The owner ship, Monsieur Morrel, extends a warm welcome Edmond Dantes. Monsieur Danglars, the ship’s purser, see him with hatred and envy. Dantes return to Marseilles delivers 2 objects : a package to Maréchal Bertrand and a letter from Elba to an unknown man in Paris. And he wants see his old father and will his fiancée, Mercedes Herera. But when he come home, he see his father look pale. The old man tell that Caderousse, the tailor, take his money as Dantes’s debt. Dantes meets Mercedes in her huse and meets her friend, Fernand Mondego, that loves her also, but she has betrothed with Dantes. Danglars, Caderousse, and Fernand meet in tavern and make some cruel plan for Dantes.
The very next day, the betrothal feast of Dantes and Mercedes be held. But the police officer come and arrest Dantest with accusation that he never did. Gerard Villefort, the deputy crown prosecutor in Marseille, destroys the letter from Elba because it is addressed to his father who is a follower of Napoleon and he fears that it will harm his career. In order to silence Dantès, he condemns him without trial to life imprisonment. The police officer take him to Chateu d’If – the terrible prison from which no man ever escapes.
During his fourteen years imprisonment in the Chateau d'If, Dantes be friends the Father Faria "The Old Priest”, a fellow prisoner trying to tunnel his way to freedom, who teaches him an extensive education. He also explains to Dantès how Danglars, Fernand, and Villefort would each have had their own reasons for wanting Dantès in prison, out of circulation. Father Faria also tells about his treasure that buried in the Isle of Monte Cristo. Before he died, Father Faria gives his inheritance to Dantes. And father Faria died because his illness. Dantes escape from the prison using Faria’s sack.
Dantes stranded on the Isle of Tiboulen. The next morning, he see an Italian ship and he pretend to be fisherman. The sailors pull him out from water. It was 1829, and his age has 33 years old. The ship sail around and pass close to the Isle of Monte Cristo. There, Dantes pretends draw blood and said to the sailors to let him alone at that isle. And they obeyed. After that, Dantes begin hunts the treasure which buried in the farthest corner of the second cave. He look around and finally find the treasure. He feels so happy.
Returning to Marseille, Dantès plans his revenge but first helps several people who were kind to him before his imprisonment. Caderousse become the owner of a small country inn while Dantes in prison. Dantes comes there and passing off as priest. Dantes asks Ccaderousse to tell everything and gives him a diamond. Caderousse tells that all Dantes’ old become very rich now. Danglars, a banker, known as Baron Danglars. Fernand being married with Mercedes and have son, Albert de Morcef. Villefort now lives in Paris.
In 1831, Dantes known as The Count of Monte Cristo, offers his carriage to two young gentlemen Albert de Morcef and Franz d’Epinay to the Carnival in Rome. Dantes brings them to the execution of young bandit belongs Luigi Vampa’s gang. Next day, Franz and Albert go to the carnival. Albert meet a pretty girl there. They meet at the night, but he didn’t return home. Franz worries about it and tell to Count of Monte Cristo. He pay Albert with one man of Luigi Vampa. Albert’s family thankful he has safed their son.
Three months later, Albert invites his friend Maximillian Morren, and he introduce him to the Count of Monte Cristo. A few days later, Dantes meets Heloise de Villefort, second wife of Gerard Villefort, and her son Edward. Later the day, a daughter of Villefort with his first wife Renee, Valentine meets Maximillian and they fall in love each other. But she has to marry Franz d’Epinay after three months.
Someday, Dantes meet with Benedetto, the illegimate son of Villefort, he has abonded with his father in early age and grow up as criminal and murderer. Dantes give him name, Andrea Cavalcanti, gives him money, and teaches him everything. As he known in Paris, Andrea will marry with Eugenie, Danglars’ daughter. And in the same time, there is a mysterious death in Villefort’s house. His mother died after drank a poison. And Valentine accused with this which she never did. Meanwhile, Franz canceled the marriage, because he knows tha Valentine granddaughter from Naportier, followers of Napoleon, who has killed General d’Epinay, Franz’s Father.
Sometime, Caderousse come to Benedetto to asks him a money, if not, he will tells to Monte Cristo who is he actually. So Benedetto give him 200 francs each month. But that amounts not give him a good life. He come to Benedetto to asks to the count more money. In the night, Caderousse climbs to Dantes’s room to take his money that before Bendetto has send him a letter to warn him. But, when Caderousse goes out from the window, someone is stabbing him. It is Benedetto. In that moment, he tells Caderousse that he is Dantes, his old friend. And Carderousse died in his arm.
One by one, Dantes’ enemies has died. His web revenge is absolutely success. 
Maximilien Morrel, believing Valentine to be dead, contemplates suicide after her funeral. Dantès reveals his true identity and explains that he rescued Morrel's father from bankruptcy, disgrace and suicide years earlier. He persuades Maximilien to delay his suicide for a month. On the island of Monte Cristo a month later, Dantès presents Valentine to Maximilien and reveals the true sequence of events. Having found peace, Dantès leaves for an unknown destination to find comfort and a new life with Haydée, who has declared her love for him.
Continue "THE COUNT OF MONTE CRISTO - Alexander Dumas"

Bendera Putih Untuk Sebutan 'ADEK'


Beuuuh ! Siang ini panas banget, sepanas hatiku (Tsaaaahh). Rasanya kayak panci yang baru dipanasin di atas kompor pake api biru dengan higher temper ( gak taulah apa itu namanya ).
Pernah gak sih, ngerasain dimana kita melambung tinggi, tapi tiba-tiba aja meletus di udara. Ya, itu balonku. Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya, meletus balon hijau, DOORRR !! 
*dilempar gagang sapu*
Mau nulis apa promosi suara kaleng rombeng lu ??!!

Okey, kembali ke laptop.
Bisa dibilang ini hal bodoh sebodoh-bodohnya orang yang gak tau jawaban 1 + 1 = 2. Apapun itu namanya, ini rasa kagum sama seseorang yang berlebih, dan kemudian membuahkan sebuah harapan. Dan harapan itu beragam, tergantung situasi dan kondisi cuaca minggu ini. ( Nah lho, apa ini ? gak nyambung ! ).
Dan di tengah melambungnya harapanku itu, tiba-tiba aja ada yang nusuk balonku dengan jarum. Meletus dan DORR. ( Emang kayak gitu kan suaranya )

Kayaknya masih ambigu ya ? Well, kuperjelas aja. Mungkin karena tampangnya yang... okey, good looking dan di atas standard, banyak nama-nama cewek yang menuhin Timeline-nya atau sekedar comment di FB. Doi menyebut mereka dengan satu sebutan 'adek'. Dan parahnya, aku termasuk dalam list 'adek'-nya yang aku sendiri gak tahu udah berapa puluh, berapa ratus atau bahka ribuan ? Who knows. Cuma dia punya daftarnya.

Sumpah demi apapun juga, aku gak pernah ada niatan buat jadi 'adek-adekan'-nya dia, karena emang ada different plan di otakku, tapi tanpa persetujuanku, dia menobatkan aku dan memasukkan namaku di antara deretan nama-nama 'adek'-nya yang lain. Well, dengan terpaksa aku come in.

Emang dasarnya aku orang yang nyablak dan ceplos ( cabe kaleeeee ), aku ngomong apa adanya semua yang terlintas di otakku (waktu itu di kesempatan ngobrol sama dia via chat). It's me ! Dan kasihannya dia salah tangkep. Kemudian mencitrakan aku sebagai sosok yang.... ( cuma dia yang tahu ).

Ternyata dia cukup sopan. Buat bilang kata 'tidak', dia ganti ava FB berdua sama seorang cewek ( dan mungkin salah satu 'adek'-nya yang entah keberapa ). Gak ada setengah jam, ava itu udah diganti. Dan saat itu memang aku masih dalam keadaan ON di obrolan. Selain itu, dia menekankan di situasi yang lain, bahwa kita cuma 'adek-kakak'. Hey ! aku tau modusmu.

Detik itu juga, rasa kagum, naksir, atau apapunlah itu namanya, HILANG ! Mengudara bareng cicak-cicak di dinding. Wait, sejak kapan cicak terbang ? 
Kenapa loe ? Mau terbang kek, merayap kek, loncat kek, MASALAH BUAT LOE ??!
Maklum, si penulis lagi panas, jadi sengaja pake CAPSLOCK semua. *kipas-kipas pake kipas sate*

Udah tau kan endingnya ? Gak ada deh usaha-usaha lagi buat ngasih kode, modus, intrik dan whatever apa namanya. I'M QUIT !
Udah cukup 2 kali ya aku nemuin cowok yang kayak 'gitu', yang gak mau kehilangan para fans-fans-nya. Hahaha

Well, bendera putih udah berkibar. Saatnya turun dari tower dan melanjutkan tidur. See you di postingan selanjutnya yaaaa *berasa ngartis*


Continue "Bendera Putih Untuk Sebutan 'ADEK'"

Kekuatan Males Berefek Sekarat


Kemaren. Senin 16 Januari 2012

Itu hari UAS ku yang bisa dikatain PALING ANCUR. Yaaah, walaupun emang belom 100% selesai hari UAS, tapi aku udah bisa ngerasain partikel-partikel angka IP yang di bawah standard.

Hari itu mata kuliah LITERATURE dan PHONETIC PHONOLOGY, bagi yang gak tau bahasa Inggris, itu mata kuliah SASTRA dan FONETIK FONOLOGI (Linguistik) ( Kayak yang nulis postingan ini jago bahasa Inggris aja). Hari itu emang cuma 2 mata kuliah yang di ujiin, tapi udah berasa kayak 24 SKS. Fiuuh bangetlah pokoknya. 

Emang dasarnya sombong dan males ya, udah tau mata kuliah paling susah seantero jagad kampus, aku malah asik twitteran dan sibuk meluk guling, nyium bantal, narik selimut, yeaaah, aktifitas layaknya seorang pelorlah. Padahal materi LITERATURE itu : satu bundel skrip drama Arms and The Man, belom ditambah puisi-puisi kolosal yang kalau kalian baca, sumpah ! 4L4Y-nya ngelebihin John Martin kalo lagi nge-MC. Dan materi Linguistik yang menurutku..... aduhay banget kalo mesti dijabarin. Penasaran ? Okeh. Materinya tentang : Allophones Rules. Phonologycal Rules, Prosodic dan bla bla bla. Nggak ngerti kan ? Udah dibilang aku gak mau jabarin, maksa sih.

Dengan semua materi itu, aku cuma ngandelin "The Power of PEDE". Dan kalian pasti bisa bayangin gimana suasana hatiku saat udah dibagiin soalnya. ACAK ADUL ! Kalo boleh muji, dosen Sastra ku emang paling top markotop seantero ruang dosen. Gimana aku gak ngomong gitu, beliau berhasil bikin aku muter otak, muter, muter, muter, sampe aku rasa nih otak udah gak simetris lagi. Walhasil, aku cuma ngandelin ngitungin kancing baju, karena kebetulan soalnya pilihan ganda. Karena kebetulan aku gak pake baju yang ada kancingya hari itu, aku pake kacang rebus sebagai gantinya. Percaya ?? Harus percaya !

Ujian ke-2. JENG JEEEEEENG !!! Denger namanya aja udah ngeri. ENGLISH PHONETIC PHONOLOGY. Salah satu pembahasan tentang Linguistik. Okey, hari itu emang open book, dan aku merasa sedikit ada harapan buat nafas. 
Pengawas bagiin soal ujiannya. Aku mati gaya ! Mati gaya ! Sekali lagi, Mati gaya ! Soalnya bikin aku mimisan satu galon. Selama beberapa menit, aku cuma mantengin soal ujian, gak bisa berbuat apa-apa. Pengen banget saat itu aku manggil ibu bidadari, minjem tongkat ajaibnya biar aku diceburin kolam saat itu juga. But What the hell ! Aku cuma nganga liat soalnya.
Kamus Oxford yang beratnya hampir 1 ton yang aku bawa susah payah dari kos ke kampuspun gak mambantu banyak dalam nyelesein tuh soal-soal.

Sampe detik-detik waktu habis, aku cuma bisa pasrah ketika pengawas ngambil kertas jawabanku, dengan minus dua nomor yang belom sempet ke-isi. Aku bener-bener breathless. Pengen lompat dari lantai 3 fakultasku saat itu juga.

Tapi, itu ternyata cuma kekecewaan sesaat. Malem itu aku buka twitter. Temenku, si Icha Fauziah, ngabarin kalo ternyata EPP ada remidi. Langsung aja aku nari tor-tor sambil goyang aserehe di atas kasur. Sumpah ! Seneng banget ! Ternyata masih ada harapan hidup di sela-sela nafasku #eaaa.

Malem itu aku janji, bakal belajar. Ini pengalaman worse yang pernah aku alamin. 
So, pesenku buat temen-temen. Jangan cuma mainan guling dan bantal pas lagi musimnya UAS gini. Sumpah ! Bakal bikin kalian sesak napas di ruang ujian.
FIGHTING !
Continue "Kekuatan Males Berefek Sekarat"

Nilai Plus Buat BLOGGER

Kenapa ya BLOGGER selalu punya nilai plus dimataku. Eh, tapi mataku minus, minus 4 lagi.
*gampar*
Makin lama, yang nulis postingan ini makin oon aja ya <-- Nah loh, ngomongin diri sendiri.

Okey, kembali ke laptop. 

BLOGGER. Pertama aku jadi admirer secret temen kelas, ya karena dia blogger, dan blog dia entertain banget  !
How silly I am ! Deketin cowok yang super duper cuek kayak dia. Dan selalu, topik yang dibicarain tentang BLOG. Walaupun endingnya gak seperti yang diharepin, tapi poin plusnya, from zero to hero. ( gak hero hero amat sih). Yeah.. Dari yang gak tau menau tentang blog, sedikit demi sedikit aku jadi tau. 

Yang kedua, gak tau kapan startnya. Tapi kalo gak salah, mulai lewat twitter. Dia follow, aku folback. Dia follow blogku, aku folback. Mention-mentionan dan retweetan, lalu berkembang ke FB. Cukup sampe disitu.
Masih sekedar mengagumi sih. Sampe sekarang juga belom tau mana orangnya. Padahal satu kampus !  ( Dunia maya banget gak sih ! ). Setiap ngetwit selalu ada usaha deh, dari sekedar ngasih kode-kode dan modus-modus yang lain.
Tapi inget ! Ini baru sekedar mengagumi, gak lebih ! Lebih juga gak papa kok ( Ngarep ! ).

Kalo dipikir, emank bener-bener silly. Tapi setelah dilihat hasilnya. Selalu ada nilai plus buat aku. Untung banget gak sih, dari cuma modal KAGUM, aku bisa jadi tau lebih yang sebelumnya belom tau sama sekali <-- Tumben positif thinking.

Dan kagum ini masih dilanjutin kok, walaupun gak ada harepan lebih untuk ‘itu’. Seenggaknya lebih di pengetahuanku :)
Continue "Nilai Plus Buat BLOGGER"

Nightmare That is Called By UAS

Haaayyyyy !!!
Masih bersama saya, mahasiswi paling kece tak tertandingi sepanjang masa dunia akhirat !
*ditimpuk John Martin*

Ini postingan pertama kali di tahun 2012. Maklumlah, si mahasiswi kece ini lagi gundah gulana dengan segala aktifitas kasur yang membuatnya semakin mencintai kasur, bantal dan gulingnya. Eh, eh… Apa ini ? aktifitas kampus maksudnya.

Bulan Januari ini musimnya musim UAS. Musim mengerikan bagi semua yang disebut mahasiswa/i. Gimana nggak. Tahun baru malah di sambut dengan seabrek tugas deadline yang harus dikerjain. Karena tarohannya hidup mati kuliahnya. ( Lebay gak sih ).

Contohnya aku. Sebelum UAS harus baca 5 novel bahasa Inggris ditambah dengan laporan tentang Plot Summary, Characters, and bla bla bla. (Aku aja pengen muntah pas nulis postingan ini ). Belom selesai sampe disitu, masih ada ujian lisan dengan dosen tiap-tipa novel itu. Belom ditambah tugas makalah, tugas kelompok, presentasi speaking dan masih banyak lagi yang gak bisa aku sebutin disini.
Bayangin aja ! Gimana hidup mahasiswa gak mengerikan coba kalo setiap setengan tahun harus ketemu sama musim yang namanya UAS itu ! *piso mana piso*
 
And well. Gara-gara semua deadline itu aku drop. Dan tingkatan paling ngenes para jomblo, eh, single, ya pas dilanda sakit gini. Gak ada yang merhatiin, untuk sekedar ditanya ‘udah makan belom ?’. Gak ada yang nawarin buat nganter periksa ke dokter. Gak ada yang nganterin makanan. Oh my God ! Hidup tuh kayak… kayak… kayak apa ya ? Kayak gitu deh. Aku gak pandai berandai-andai.

Dari postingan-postingan sebelumnya kok kayaknya hidupku ngenes banget ya ? Sengaja ! Biar kalian pas baca postingan ini, ada sedikit rasa simpati dan empati yang mendalam buat aku. Dan kali aja bersedia ngumpulin 1000 pasang sandal untuk WILDA. ( Apa lagi ini ? makin gak nyambung).

Well yeah… Itu sedikit mimpi burukku di musim UAS. Tapi apapun yang terjadi, aku tetep selalu fighting kok buat ngejar-ngejar nilai yang cukup buat ngajuin beasiswa <-- modus banget deh :D
Continue "Nightmare That is Called By UAS"