Perjalanan dari Malang, membuat tulang punggungku terasa remuk. Setelah dari Malangpun, perjalanan masih berlanjut menuju tempat keluarga kami di Sendang, Tuban. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana bisa perjalanan ini aku tempuh selama 3 hari 2 malam.
Dalam mobil, aku terdiam menatap kosong pohon-pohon yang bergerak mundur. Berjejer rapi seperti pagar ayu dalam sebuah pernikahan. Jalanan lenggang malam itu. Hanya beberapa mobil yang kadang menyalip mobil kami di tol Surabaya itu. Pikiranku entah bercabang ke dunia mana. Semua emosipun bercampur aduk dan berkecamuk di dada. Aku sendiri bingung mengungkapkannya. Tapi akan kucoba mengurainya.
Salah satunya, tentang celah dalam keluargaku. Entah kapan celah itu mulai lubang. Tapi kurasa, sekarang celah itu semakin dalam. Dengan berbagai tampilan senyum dan sikap menurut sebagai kamuflase. Perbedaan pemikiran dan keegoan yang membuat semuanya tak berjalan dalam satu jalan. Tak banyak yang bisa kuperbuat. Sekedar tau saja bagaimana suatu keharmonisan itu sangat penting dalam hal hubungan apapun.
Selama ini kukira aku sudah dalam sebuah lingkaran yang utuh tanpa suatu celah apapun. Tapi semakin aku dewasa dan mulai bisa menilai suatu hal dari sisi yang berbeda, akupun sadar, aku terjebak dalam lingkaran yang tak berbentuk. Dan lagi-lagi semua karena keegoisan yang tinggi. Berusaha mengerti dan mengalahpun, aku tak sanggup bila harus melakukan kedua hal itu sepanjang hidupku. Karena pada dasarnya merekalah yang harus bisa mengalah dan mengerti keadaan kami sebagai anak-anaknya yang ingin menempuh jalan kami.
Dalam hatipun aku hanya bisa berkata “semoga Allah memudahkan jalanku dan menguatkan aku untuk meraih ridhoNya”. Aku bertahan karena kakak perempuanku dan juga Bapak. Semoga semua akan indah pada waktunya.
Masih di tol Surabaya. Kulirik handphoneku, tak ada balasan SMS satupun darinya. Padahal, aku sangat membutuhkan teman berbagi saat ini. Aku ingin dia menghiburku. Memberiku ketenangan di posisiku yang menyuntukkan ini.
Hal yang kedua itu adalah, tentangnya. Rumit. Itu kata yang pas untuk menggambarkan kepribadiannya. Semakin kesini, hubunganku dengannya semakin tidak jelas. Menuntut aku untuk terus mengerti dan mengerti keadaannya.
Perumpamaannya begini, seorang anak kecil sudah seharusnya dilindungi dan mencoba mengerti apa yang dia mau. Tapi ini justru kebalikannya. Justru anak kecil ini melindungi orang yang harus melindunginya. Aneh kan ? Akupun tak habis pikir. Bagaimana bisa tangan kecil anak itu menahan pegangan sebuah tangan yang seharusnya menariknya dari lubang di tengan jalan.
Berulang kali, bahkan setiap kali. Terus dan terus. Selalu mendahulukan egonya. Ketika aku bercerita tentang keadaanku, bukan menjadi pendengar setia, tapi justru “aku juga begini dan begitu”. Lelah ! terlalu banyak alasan. Bukan menuntut untuk dia seperti ini dan itu. Aku hanya ingin merasakan selayaknya kodrat perempuan kebanyakan. Dimengerti, disayangi, dlindungi, dan diperhatikan. Dan bila harus mengalah terus pada keegoannya, bukan aku orangnya. Karena aku tak sanggup.
Dan sekarang, aku tak ingin apa-apa. Hanya ingin mengistirahatkan hatiku dan menambah kekuatan positif untuk membangun pribadi yang kuat.


0 komentar:
Posting Komentar