Karena Aku Takut



Malam ini, kutengadahkan kepala ke langit-langit atap. Memikirkan hal-hal yang sebenarnya tak penting untuk kupikirkan. Dan tiba-tiba sebuah pertanyaan melintas di pikiranku. 


Mungkinkah aku akan jatuh cinta untuk ketiga kalinya ?

Ya, aku takut. Bahkan untuk membayangkannya saja terlalu mustahil. Aku sadar, betapa aku terlalu menutup hati selama ini. Mengamankan hati untuk tidak membuka luka lama. Mengunci pintu hati untuk tidak dimasuki oleh luka.
Ya, itu yang selama ini kulakukan.

Banyak jabat tangan dari sosok-sosok yang baru kukenal. Banyak obrolan-obrolan yang bisa kuperbincangkan dengan mereka. Dan, lagi-lagi aku menjaga jarak. Sangat jauh. Betapa hati-hatinya aku ketika hanya menjawab sebuah sapaan “Hai”.
Kehatia-hatian ini karena betapa aku dikecewakan untuk kedua kalinya. Seakan jengah dengan luka, aku menutup hati. Membiarkannya terkunci entah sampai kapan. Tidak mengindahkan semua yang datang. Jahat ? Ya, mungkin. Tapi lagi-lagi, karena sesungguhnya aku terlalu takut.
Takut bagaimana luka seperti apa lagi yang akan ditorehkan ? Bagaimana kalo aku menangis di depan keluargaku untuk kesekian kalinya ? Bentuk survive macam apa lagi yang harus kujalani ? Sakit macam apa lagi yang harus kurasakan ? Bentuk semangat dari teman-teman apa lagi yang kubutuhkan ?
Akupun memilih diam. Berdiri di tempatku sekian lama. Menolak uluran tangan yang mengajak keluar dari lingkaran tempatku berdiri. Aku belum siap. Belum siap bila menjadi sosok yang kuat dengan luka. Belum siap menahan airmata untuk tidak menetes nantinya. Walaupun itu bukan hal-hal yang aku harapkan.

Sampailah aku ke titik dimana aku berusaha keras menjadi pribadi yang layak. Berusaha menjadi seseorang yang layak dicintai oleh pribadi yang hebat. Tapi ini baru langkah awal. Langkah dimana aku mengumpulkan sisa-sisa kekuatanku dari masa lalu untuk menjadikannya tameng. Berusaha menjadikannya pesona bagi pribadi-pribadi yang hebat. Menjadikannya kekaguman keluarga dan teman-teman terdekat. 

Ya, aku ingin jatuh cinta lagi… tapi nanti. Saat Tuhan telah melayakkanku untuk berdiri sendiri dengan semua kekuatan yang kukumpulkan untuk melawan ketakutanku selama ini.


Kuatkan aku Tuhan
umatMu, Wilda Nee

0 komentar:

Posting Komentar